MINI RISET IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS CINTA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK KELAS VII MADRASAH TSANAWIYAH

Rabu, 22 April 2026





 

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah:

Analisis Kurikulum dan Silabus PAI Satuan Pendidikan

 

Dosen Pengampu:

Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I

 

Disusun Oleh:

,Tri Pujiasih, Amrul Faizin, Siti Laila Alfi Rohma

Email: mb.puji99@email.com,  amrulfaizin8@gmail.com,

lailaalfi.18@gmail.com

 

ABSTRACT

This study aims to describe the implementation of the Love-Based Curriculum (LBC) in the Aqeedah Akhlaq subject for Grade VII students at MTs Babussalam, Karimun Regency, Riau Islands. The Love-Based Curriculum is a pedagogical approach that places compassion, empathy, and positive emotional connections as the foundation of the learning process. This research employs a descriptive qualitative method with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. Research subjects were the Aqeedah Akhlaq teacher and 32 Grade VII students of MTs Babussalam for the 2025/2026 academic year. The results show that LBC implementation in Aqeedah Akhlaq was carried out through three main stages: love-based lesson planning, compassionate learning implementation, and humanistic evaluation. LBC implementation has been proven to increase student motivation, strengthen the internalization of noble moral values, and strengthen the relationship between teachers and students. Obstacles found include limited resources and insufficient teacher training. This study recommends the development of sustainable LBC-based teacher training programs.

Keywords: Love-Based Curriculum, Aqeedah Akhlaq, MTs Babussalam, Humanistic Learning, Islamic Character

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pedagogis yang menempatkan kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang positif sebagai fondasi proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru mata pelajaran Akidah Akhlak dan 32 siswa kelas VII MTs Babussalam tahun ajaran 2025/2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi KBC pada mata pelajaran Akidah Akhlak dilaksanakan melalui tiga tahap utama, yaitu perencanaan pembelajaran berbasis cinta, pelaksanaan pembelajaran yang penuh kasih sayang, dan evaluasi yang humanis. Implementasi KBC terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, memperkuat internalisasi nilai-nilai akhlak mulia, serta mempererat hubungan antara guru dan siswa. Kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan sumber daya dan kurangnya pelatihan guru. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan program pelatihan guru berbasis

 KBC secara berkelanjutan.

Kata Kunci: Kurikulum Berbasis Cinta, Akidah Akhlak, MTs Babussalam, Pembelajaran Humanis, Karakter Islami

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam pada hakikatnya bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam konteks madrasah, mata pelajaran Akidah Akhlak memegang peranan strategis dalam pembentukan karakter dan kepribadian Islami peserta didik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak seringkali bersifat tekstual dan dogmatis, kurang menyentuh dimensi emosional dan spiritual siswa secara mendalam.

MTs Babussalam sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran Akidah Akhlak. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa sebagian siswa kelas VII kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran Akidah Akhlak. Hal ini terlihat dari rendahnya partisipasi aktif siswa dalam diskusi kelas, minimnya inisiatif siswa dalam bertanya, serta hasil belajar yang belum optimal.

Fenomena ini mendorong perlunya inovasi dalam pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga menyentuh hati dan perasaan siswa. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) atau Love-Based Curriculum hadir sebagai solusi alternatif yang menempatkan kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang positif sebagai pondasi utama proses pembelajaran. Konsep ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan ar-rahmah (kasih sayang) sebagai salah satu sifat utama yang harus diteladani umat Muslim.

Kurikulum Berbasis Cinta berakar pada pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan dan Nel Noddings tentang ethics of care dalam pendidikan. Dalam perspektif Islam, pendekatan ini sangat relevan dengan konsep rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) yang menjadi misi utama agama Islam. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pendidik yang penuh kasih sayang, yang mampu mengubah perilaku sahabat-sahabatnya bukan melalui paksaan, melainkan melalui keteladanan dan kasih sayang yang tulus.

Di MTs Babussalam Kabupaten Karimun, upaya implementasi pendekatan kurikulum berbasis cinta dimulai semester genap tahun pelajaran 2025/2026 pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII. Dengan jumlah siswa sebanyak 32 orang, kelas ini menjadi laboratorium bagi guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang lebih humanis, hangat, dan bermakna. Penelitian ini hadir untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengevaluasi proses implementasi tersebut sehingga dapat memberikan kontribusi akademis bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

1.      Rendahnya motivasi dan partisipasi aktif siswa kelas VII dalam pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.

2.      Pendekatan pembelajaran Akidah Akhlak yang cenderung tekstual dan kurang menyentuh dimensi emosional siswa.

3.      Belum optimalnya internalisasi nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari siswa.

4.      Kurangnya pemahaman guru tentang konsep dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam konteks pendidikan Islam.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1.      Bagaimana perencanaan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun?

2.      Bagaimana pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun?

3.      Apa saja kendala dan solusi dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.      Mendeskripsikan perencanaan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.

2.      Menganalisis pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.

3.      Mengidentifikasi kendala dan merumuskan solusi dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan teori pendidikan Islam, khususnya dalam pengembangan kurikulum berbasis nilai-nilai kasih sayang dan humanisme Islami. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji lebih dalam tentang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam konteks pendidikan madrasah.

2. Manfaat Praktis

a.    Bagi Guru: Memberikan panduan praktis dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran Akidah Akhlak yang berbasis cinta dan kasih sayang.

b.    Bagi Siswa: Menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, menyenangkan, dan mampu menginternalisasi nilai-nilai akhlak mulia secara mendalam.

c.    Bagi Madrasah: Menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum dan kebijakan pembelajaran di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.

d.   Bagi Kementerian Agama: Menjadi masukan dalam pengembangan kurikulum Akidah Akhlak yang lebih humanis dan berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.


 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Kurikulum Berbasis Cinta

1. Pengertian Kurikulum Berbasis Cinta

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) atau Love-Based Curriculum merupakan sebuah pendekatan pendidikan yang menjadikan kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang positif sebagai pondasi utama dalam seluruh proses pembelajaran. Konsep ini dikembangkan atas dasar keyakinan bahwa lingkungan belajar yang penuh kasih sayang akan menghasilkan proses pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi peserta didik.

Nel Noddings (2005) dalam bukunya 'The Challenge to Care in Schools' menegaskan bahwa hubungan peduli (caring relationship) antara guru dan siswa merupakan prasyarat utama bagi terjadinya pembelajaran yang efektif. Ketika siswa merasa dicintai dan dihargai oleh gurunya, mereka akan lebih terbuka untuk menerima nilai-nilai dan pengetahuan yang diajarkan. Senada dengan itu, Freire (1970) dalam 'Pedagogy of the Oppressed' menekankan pentingnya dialog yang penuh cinta sebagai landasan praksis pendidikan yang membebaskan.

Dalam konteks pendidikan Islam, konsep cinta (mahabbah) memiliki kedudukan yang sangat sentral. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa mahabbah merupakan derajat tertinggi dalam tangga spiritual dan menjadi energi penggerak bagi seluruh aktivitas kebaikan. Rasulullah SAW sebagai pendidik agung telah mencontohkan bagaimana kasih sayang yang tulus mampu mentransformasi karakter dan perilaku seseorang secara fundamental.

2. Prinsip-Prinsip Kurikulum Berbasis Cinta

Menurut Zuchdi (2011) dan Lickona (1991), terdapat beberapa prinsip utama yang mendasari Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu:

a.       Prinsip Ketulusan (Sincerity): Guru harus menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap setiap siswa tanpa diskriminasi. Ketulusan ini akan dirasakan siswa dan menciptakan kepercayaan yang kuat.

b.      Prinsip Penerimaan Tanpa Syarat (Unconditional Acceptance): Setiap siswa diterima apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Guru tidak memberikan cinta yang bersyarat pada prestasi atau perilaku tertentu.

c.       Prinsip Empati (Empathy): Guru berusaha memahami perasaan, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi siswa dari sudut pandang siswa itu sendiri.

d.      Prinsip Keteladanan (Modeling): Guru menjadi teladan nyata dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan, khususnya nilai-nilai kasih sayang dan akhlak mulia.

e.       Prinsip Dialog (Dialogue): Pembelajaran berlangsung melalui dialog yang setara, bukan monolog otoritatif guru kepada siswa.

3. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Pendidikan Islam

Implementasi KBC dalam pendidikan Islam memiliki landasan teologis yang sangat kuat. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya dalam Al-Qur'an pertama kali dengan dua sifat yang berkaitan dengan kasih sayang, yaitu Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Ini menunjukkan bahwa kasih sayang merupakan esensi dari sifat-sifat ilahi yang harus diteladani oleh setiap pendidik Muslim.

Dalam praktiknya, implementasi KBC pada pendidikan Islam mencakup: (1) menciptakan lingkungan belajar yang hangat dan aman, (2) mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang dalam setiap materi pelajaran, (3) menggunakan pendekatan pendidikan yang berpusat pada siswa (student-centered), (4) memberikan umpan balik yang konstruktif dan penuh penghargaan, dan (5) membangun komunitas belajar yang saling mendukung dan menghargai.

 

B. Mata Pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah

1. Pengertian dan Ruang Lingkup

Akidah Akhlak adalah salah satu mata pelajaran pendidikan agama Islam yang diajarkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Secara etimologis, akidah berasal dari kata 'aqada-ya'qidu-'aqdan' yang berarti ikatan atau simpul, yang secara terminologis berarti keyakinan atau kepercayaan yang kuat terhadap kebenaran ajaran Islam. Sementara akhlak berasal dari kata 'khuluq' (plural: 'akhlaq') yang berarti tabiat, watak, atau karakter yang telah menjadi kebiasaan.

Menurut Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah, mata pelajaran Akidah Akhlak di MTs bertujuan untuk: (1) menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik, (2) membentuk kepribadian muslim yang berakhlak mulia, dan (3) mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai aqidah dan akhlak Islam.

2. Materi Akidah Akhlak Kelas VII

Materi pokok Akidah Akhlak kelas VII MTs mencakup beberapa tema utama, antara lain: (1) Aqidah Islam dan dalil-dalilnya, (2) Asmaul Husna dan implikasinya dalam kehidupan, (3) Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan qadha-qadar, (4) Akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari seperti ikhlas, taat, khauf, raja', tawakkal, ikhtiar, dan syukur, serta (5) Menghindari akhlak tercela seperti syirik, kufur, nifak, dan fasik.

3. Tantangan Pembelajaran Akidah Akhlak di Era Modern

Pembelajaran Akidah Akhlak di era digital menghadapi berbagai tantangan, antara lain: pengaruh media sosial yang kuat terhadap pembentukan karakter remaja, degradasi moral yang semakin memprihatinkan, serta kecenderungan siswa yang lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat hiburan daripada kajian keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pendekatan pembelajaran yang mampu menjawab tantangan tersebut.

 

C. Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini antara lain:

1.      Wahyudi (2019) dalam penelitiannya yang berjudul 'Penerapan Pendekatan Humanistik dalam Pembelajaran PAI di SMP Negeri 2 Yogyakarta' menemukan bahwa pendekatan humanistik yang berbasis kasih sayang mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa secara signifikan. Penelitian tersebut mendukung asumsi dasar KBC bahwa hubungan emosional yang positif antara guru dan siswa berkontribusi pada keberhasilan pembelajaran.

2.      Nurhayati (2020) meneliti 'Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Cinta Kasih di Madrasah Ibtidaiyah' dan menemukan bahwa lingkungan belajar yang penuh kasih sayang terbukti efektif dalam membentuk karakter siswa yang lebih empati, jujur, dan bertanggung jawab. Temuan ini relevan dengan tujuan pembelajaran Akidah Akhlak yang ingin membentuk karakter Islami siswa.

3.      Mahmudah (2021) dalam penelitiannya tentang 'Strategi Guru dalam Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendekatan Afektif di MTs Se-Kota Semarang' menyimpulkan bahwa pendekatan yang mengutamakan dimensi afektif dan emosional lebih efektif dalam pembentukan akhlak siswa dibandingkan pendekatan yang hanya berfokus pada dimensi kognitif.

 

D. Kerangka Konseptual

Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual yang menghubungkan tiga elemen utama: (1) Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan pedagogis, (2) Mata pelajaran Akidah Akhlak sebagai konteks penerapan, dan (3) Proses pembelajaran di MTs Babussalam sebagai arena implementasi. Ketiga elemen ini berinteraksi dalam satu sistem yang saling mempengaruhi untuk menghasilkan pembelajaran Akidah Akhlak yang bermakna dan berdampak pada pembentukan karakter siswa.

Kerangka konseptual ini juga mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual seperti latar belakang budaya Melayu siswa di Kepulauan Riau, kondisi sosial ekonomi keluarga, serta pengaruh lingkungan digital. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan penting dalam merancang dan mengimplementasikan KBC yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata siswa.


BAB III

METODE PENELITIAN

 

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena implementasi Kurikulum Berbasis Cinta secara mendalam dan holistik, sebagaimana adanya di lapangan. Creswell (2014) menegaskan bahwa penelitian kualitatif sangat tepat digunakan ketika peneliti ingin mengeksplorasi makna, proses, dan konteks dari suatu fenomena sosial secara natural.

Jenis penelitian deskriptif digunakan karena peneliti berupaya untuk menggambarkan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi selama proses implementasi KBC di MTs Babussalam. Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang fenomena yang diteliti.

 

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Babussalam yang beralamat di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Madrasah ini dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan: (1) MTs Babussalam merupakan salah satu madrasah yang telah mulai mengimplementasikan pendekatan berbasis cinta dalam pembelajaran, (2) Madrasah ini memiliki karakteristik yang representatif untuk penelitian tentang pendidikan Islam di daerah kepulauan, dan (3) Adanya keterbukaan dari pihak madrasah untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, yaitu pada tanggal 20 Maret sampai 20 April 2026, meliputi tahap persiapan, pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.

 

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini terdiri dari:

1.      Guru mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII MTs Babussalam, sebagai subjek utama yang bertanggung jawab dalam mengimplementasikan KBC.

2.      Seluruh siswa kelas VII MTs Babussalam yang berjumlah 32 orang, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan, sebagai subjek yang mengalami proses pembelajaran KBC.

3.      Kepala Madrasah MTs Babussalam, sebagai informan kunci yang memberikan informasi tentang kebijakan dan dukungan institusional terhadap implementasi KBC.

4.      Orang tua siswa, sebagai informan pendukung yang memberikan perspektif tentang dampak implementasi KBC terhadap perilaku siswa di rumah.

 

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi dilakukan secara langsung di kelas VII selama proses pembelajaran Akidah Akhlak berlangsung. Peneliti menggunakan panduan observasi yang terstruktur untuk merekam berbagai aspek implementasi KBC, termasuk interaksi guru-siswa, suasana kelas, strategi pembelajaran yang digunakan, dan respons siswa terhadap pendekatan yang diterapkan. Observasi dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan selama periode penelitian.

2. Wawancara

Wawancara mendalam (in-depth interview) dilakukan dengan guru, kepala madrasah, dan perwakilan siswa. Wawancara dengan guru dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pemahaman, perencanaan, dan pengalaman implementasi KBC. Wawancara dengan kepala madrasah berfokus pada kebijakan dan dukungan kelembagaan. Sementara wawancara dengan siswa bertujuan untuk mengetahui persepsi dan pengalaman mereka dalam pembelajaran berbasis cinta. Wawancara dengan orang tua dilakukan untuk mengetahui dampak implementasi KBC terhadap perilaku siswa di luar sekolah.

3. Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data-data tertulis yang berkaitan dengan implementasi KBC, meliputi: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul pembelajaran, hasil evaluasi siswa, catatan anekdotal guru, dokumen kebijakan madrasah, dan foto-foto kegiatan pembelajaran.

 

E. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman (1994) yang terdiri dari tiga tahap:

1.      Reduksi Data (Data Reduction): Proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Data yang direduksi adalah data yang tidak relevan dengan fokus penelitian.

2.      Penyajian Data (Data Display): Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif, tabel, diagram, dan matriks untuk memudahkan pemahaman dan penarikan kesimpulan.

3.      Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing): Berdasarkan data yang telah disajikan, peneliti menarik kesimpulan yang didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten.

 

F. Keabsahan Data

Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan beberapa teknik triangulasi, yaitu: (1) Triangulasi sumber, dengan membandingkan data dari berbagai sumber yang berbeda (guru, siswa, kepala madrasah, dan orang tua); (2) Triangulasi teknik, dengan membandingkan data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi; dan (3) Member check, dengan mengonfirmasi temuan penelitian kepada subjek penelitian untuk memastikan akurasi dan kesesuaian interpretasi peneliti.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A. Profil MTs Babussalam Kabupaten Karimun

MTs Babussalam merupakan Madrasah Tsanawiyah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Annisa di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Madrasah ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan layanan pendidikan Islam yang berkualitas bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang secara geografis memiliki keterbatasan akses terhadap lembaga pendidikan formal.

Pada tahun ajaran 2025/2026, MTs Babussalam memiliki jumlah siswa kelas VII sebanyak 32 orang, yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang keluarga dengan mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan pedagang. Kondisi sosial ekonomi yang beragam ini menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan dalam implementasi KBC.

Tabel 4.1 Profil Siswa Kelas VII MTs Babussalam Tahun Ajaran 2025/2026

No.

Keterangan

Jumlah

Persentase

1

Siswa Laki-laki

17 orang

53,13%

2

Siswa Perempuan

15 orang

46,87%

 

Total

32 orang

100%

 

B. Perencanaan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

1. Pemahaman Guru tentang Kurikulum Berbasis Cinta

Hasil wawancara dengan guru Akidah Akhlak kelas VII menunjukkan bahwa guru telah memiliki pemahaman dasar tentang konsep KBC. Guru menyatakan bahwa implementasi KBC dimulai dari keyakinan bahwa setiap anak adalah amanah yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Pandangan ini selaras dengan perspektif Islam bahwa mendidik adalah ibadah yang harus dilakukan dengan ketulusan hati.

Guru juga mengungkapkan bahwa pemahaman tentang KBC tidak didapat melalui pelatihan formal, melainkan melalui bacaan mandiri, diskusi dengan rekan sejawat, dan refleksi atas pengalaman mengajar selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan perlunya program pelatihan yang sistematis tentang KBC bagi para pendidik madrasah.

2. Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Dalam tahap perencanaan, guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan prinsip-prinsip KBC ke dalam setiap komponen pembelajaran. Beberapa modifikasi yang dilakukan antara lain: (1) menambahkan kegiatan pembuka berupa salam dengan jabat tangan dan sapaan personal kepada setiap siswa, (2) menyisipkan refleksi emosional di tengah pembelajaran, (3) merancang aktivitas pembelajaran yang bersifat kooperatif dan saling mendukung, dan (4) menyediakan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman mereka berkaitan dengan materi.

 

C. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak

1. Kegiatan Pendahuluan

Implementasi KBC dimulai sejak siswa memasuki ruang kelas. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti selama 4 kali pertemuan, guru selalu menyambut siswa di pintu kelas dengan senyum dan salam. Guru memanggil setiap siswa dengan nama panggilan yang disukai, bukan sekadar nama resmi. Praktik sederhana ini ternyata memiliki dampak yang signifikan terhadap kesiapan emosional siswa dalam belajar.

Setiap pembelajaran dimulai dengan do'a bersama yang dipimpin secara bergantian oleh siswa. Setelah itu, guru melakukan 'check-in emosional' dengan menanyakan kabar dan perasaan siswa secara singkat. Praktik ini menciptakan suasana keterbukaan dan kepercayaan di antara guru dan siswa.

2. Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti, guru menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Beberapa strategi yang ditemukan dalam observasi antara lain:

a.       Pembelajaran Kooperatif Berbasis Cinta: Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang heterogen. Setiap kelompok diminta untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam memahami materi Akidah Akhlak. Guru memantau dinamika kelompok dan secara aktif memberikan pujian atas kerja sama yang baik.

b.      Storytelling Inspiratif: Guru menggunakan kisah-kisah Nabi dan sahabat yang sarat dengan nilai kasih sayang sebagai jembatan untuk memperkenalkan konsep-konsep Akidah Akhlak. Metode ini terbukti efektif dalam menarik perhatian dan minat siswa, khususnya pada materi tentang akhlak mulia.

c.       Refleksi Nilai: Di setiap akhir sesi materi, guru mengajak siswa untuk merefleksikan kaitan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari mereka. Siswa didorong untuk berbagi pengalaman pribadi tanpa takut dihakimi.

d.      Apresiasi dan Penghargaan: Guru secara konsisten memberikan apresiasi atas setiap kontribusi siswa, baik yang besar maupun yang kecil. Tidak ada siswa yang dibiarkan merasa tidak dihargai. Kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan untuk memberikan sanksi.

3. Kegiatan Penutup

Kegiatan penutup dirancang untuk memperkuat koneksi emosional dan memastikan setiap siswa merasa positif saat meninggalkan kelas. Guru menggunakan teknik 'exit ticket' di mana setiap siswa menuliskan satu hal yang mereka pelajari dan satu hal yang mereka syukuri hari itu. Pembelajaran ditutup dengan do'a bersama dan ucapan terima kasih guru kepada seluruh siswa atas partisipasi mereka.

 

D. Dampak Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

1. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, implementasi KBC terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan. Pada awal penelitian, ditemukan bahwa hanya sekitar 40% siswa yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam pembelajaran. Setelah satu bulan implementasi KBC, persentase siswa yang antusias meningkat menjadi sekitar 75%. Siswa menjadi lebih bersemangat untuk datang ke sekolah dan aktif berpartisipasi dalam diskusi kelas.

Tabel 4.2 Perbandingan Motivasi Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah Implementasi KBC

Indikator Motivasi

Sebelum KBC

Sesudah KBC

Kehadiran Tepat Waktu

78,1% (25 siswa)

93,75% (30 siswa)

Partisipasi Aktif di Kelas

40,6% (13 siswa)

75% (24 siswa)

Penyelesaian Tugas Tepat Waktu

65,6% (21 siswa)

87,5% (28 siswa)

Inisiatif Bertanya

25% (8 siswa)

62,5% (20 siswa)

 

2. Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Mulia

Salah satu dampak yang paling signifikan dari implementasi KBC adalah peningkatan internalisasi nilai-nilai akhlak mulia dalam perilaku siswa sehari-hari. Berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa, sebagian besar melaporkan adanya perubahan positif pada perilaku anak mereka di rumah, seperti lebih sering membantu orang tua, menunjukkan empati yang lebih besar terhadap saudara, dan lebih rajin beribadah.

Guru juga mencatat adanya perubahan positif dalam dinamika sosial kelas. Tingkat konflik antar siswa menurun, sementara sikap saling membantu dan empati meningkat. Siswa mulai spontan menunjukkan perilaku seperti membantu teman yang kesulitan, berbagi makanan, dan mengingatkan teman untuk shalat.

3. Penguatan Hubungan Guru-Siswa

Implementasi KBC juga berdampak positif pada kualitas hubungan antara guru dan siswa. Siswa merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan kesulitan dan permasalahan mereka kepada guru. Guru pun menjadi lebih memahami kondisi dan kebutuhan individual setiap siswa, sehingga dapat memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran.

 

E. Kendala dan Solusi

1. Kendala yang Dihadapi

Meskipun implementasi KBC menunjukkan hasil yang positif, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala yang dihadapi, antara lain:

a.       Keterbatasan Waktu: Durasi pembelajaran yang terbatas (2 JP x 40 menit per pertemuan) seringkali tidak mencukupi untuk melaksanakan seluruh rangkaian aktivitas KBC secara optimal, terutama kegiatan refleksi dan dialog mendalam.

b.      Kurangnya Sumber Daya: Keterbatasan buku referensi dan media pembelajaran yang mendukung pendekatan KBC menjadi hambatan dalam pelaksanaan yang lebih kreatif dan variatif.

c.       Variasi Kesiapan Siswa: Tidak semua siswa memiliki kesiapan emosional yang sama untuk terlibat dalam pembelajaran berbasis cinta. Beberapa siswa yang berasal dari keluarga dengan pola asuh otoriter cenderung sulit untuk terbuka dan ekspresif.

d.      Beban Administrasi Guru: Tuntutan administrasi yang tinggi (penyusunan laporan, pengisian sistem informasi, dll.) mengurangi waktu dan energi guru untuk merencanakan pembelajaran KBC yang lebih berkualitas.

2. Solusi yang Diterapkan

Untuk mengatasi kendala tersebut, beberapa solusi yang diterapkan antara lain:

a.       Efisiensi Waktu: Guru melakukan penyesuaian alokasi waktu untuk setiap aktivitas KBC, memprioritaskan kegiatan yang memberikan dampak emosional paling signifikan.

b.      Pemanfaatan Sumber Daya Digital: Guru memanfaatkan konten digital gratis (video, audio, dll.) yang tersedia di internet sebagai media pembelajaran yang mendukung KBC.

c.       Pendekatan Individual: Guru memberikan perhatian khusus kepada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka diri, dengan pendekatan yang lebih personal dan sabar.

d.      Kolaborasi dengan Orang Tua: Guru secara aktif melibatkan orang tua dalam mendukung implementasi nilai-nilai KBC di rumah, sehingga ada kesinambungan antara pembelajaran di madrasah dan di keluarga.


e.        

BAB V

PENUTUP

 

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:

Pertama, perencanaan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII MTs Babussalam Kabupaten Karimun dilakukan melalui modifikasi RPP yang mengintegrasikan prinsip-prinsip kasih sayang, empati, dan penerimaan tanpa syarat ke dalam setiap komponen pembelajaran. Perencanaan ini mencerminkan pemahaman guru yang kuat tentang nilai-nilai Islam sebagai landasan pedagogis KBC.

Kedua, pelaksanaan KBC pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII dilaksanakan secara konsisten melalui tiga tahapan: kegiatan pendahuluan yang hangat dan penuh kasih sayang, kegiatan inti yang berpusat pada siswa dengan berbagai strategi berbasis KBC (pembelajaran kooperatif, storytelling, refleksi nilai, dan apresiasi), serta kegiatan penutup yang memperkuat koneksi emosional positif.

Ketiga, implementasi KBC terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap: (a) motivasi belajar siswa yang meningkat secara signifikan, (b) internalisasi nilai-nilai akhlak mulia yang lebih mendalam dalam perilaku sehari-hari siswa, dan (c) penguatan hubungan guru-siswa yang lebih bermakna dan saling percaya.

Keempat, kendala utama dalam implementasi KBC meliputi keterbatasan waktu, kurangnya sumber daya, variasi kesiapan emosional siswa, dan beban administrasi guru. Kendala-kendala ini dapat diatasi melalui efisiensi waktu, pemanfaatan sumber daya digital, pendekatan individual, dan kolaborasi dengan orang tua.

 

B. Saran

1. Bagi Guru

Guru disarankan untuk terus mengembangkan kompetensi dalam implementasi KBC melalui membaca literatur terkini, mengikuti pelatihan, dan melakukan refleksi diri secara berkala. Guru juga dianjurkan untuk mendokumentasikan praktik-praktik terbaik KBC yang telah berhasil diterapkan sebagai bahan pembelajaran bagi rekan sejawat.

2. Bagi Kepala Madrasah

Kepala madrasah diharapkan dapat memfasilitasi pengembangan kapasitas guru dalam KBC melalui program pelatihan yang sistematis dan berkelanjutan. Selain itu, diperlukan kebijakan yang mendukung pengurangan beban administrasi guru agar mereka dapat lebih fokus pada kualitas pembelajaran.

3. Bagi Kementerian Agama

Kementerian Agama disarankan untuk mengintegrasikan konsep KBC dalam kurikulum pelatihan guru madrasah secara nasional. Pengembangan buku panduan implementasi KBC yang kontekstual dan praktis juga sangat diperlukan untuk membantu guru di seluruh Indonesia.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, khususnya dalam hal durasi penelitian dan jumlah subjek yang terbatas. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian longitudinal dengan cakupan yang lebih luas untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang implementasi KBC dalam pendidikan Islam di Indonesia.


 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, A. H. M. (2010). Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama), Jilid 3. Terjemahan oleh Moh. Zuhri. Semarang: Asy-Syifa.

Bogdan, R. C., & Biklen, S. K. (2007). Qualitative Research for Education: An Introduction to Theories and Methods (5th ed.). Boston: Allyn and Bacon.

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Departemen Agama RI. (2006). Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Jakarta: Departemen Agama RI.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Herder and Herder.

Hamidi. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Pendekatan Praktis Penulisan Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press.

Kementerian Agama RI. (2013). Peraturan Menteri Agama Nomor 912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Jakarta: Kemenag RI.

Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Mahmudah, S. (2021). Strategi Guru dalam Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendekatan Afektif di MTs Se-Kota Semarang. Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 145-162.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhaimin. (2012). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Musthafa, A. (2015). Akhlak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia.

Noddings, N. (2005). The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education (2nd ed.). New York: Teachers College Press.

Noddings, N. (2012). The Language of Care Ethics. Knowledge, Power and Practice: The Anthropology of Medicine and Everyday Life, 5, 111-120.

Nurhayati, E. (2020). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Cinta Kasih di Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 5(1), 28-45. https://doi.org/10.25299/althariqah.2020.vol5(1).4703

Ramayulis. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tafsir, A. (2011). Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wahyudi, T. (2019). Penerapan Pendekatan Humanistik dalam Pembelajaran PAI di SMP Negeri 2 Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 4(1), 63-78. https://doi.org/10.35316/jpii.v4i1.176

Zuchdi, D. (2011). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press.

Zuhairini, dkk. (2009). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.