Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah:
Analisis Kurikulum dan Silabus PAI Satuan
Pendidikan
Dosen Pengampu:
Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd.I
Disusun Oleh:
,Tri Pujiasih, Amrul Faizin, Siti
Laila Alfi Rohma
Email: mb.puji99@email.com, amrulfaizin8@gmail.com,
ABSTRACT
This study aims to describe the implementation
of the Love-Based Curriculum (LBC) in the Aqeedah Akhlaq subject for Grade VII
students at MTs Babussalam, Karimun Regency, Riau Islands. The Love-Based
Curriculum is a pedagogical approach that places compassion, empathy, and
positive emotional connections as the foundation of the learning process. This
research employs a descriptive qualitative method with data collection
techniques including observation, interviews, and documentation. Research
subjects were the Aqeedah Akhlaq teacher and 32 Grade VII students of MTs
Babussalam for the 2025/2026 academic year. The results show that LBC
implementation in Aqeedah Akhlaq was carried out through three main stages:
love-based lesson planning, compassionate learning implementation, and
humanistic evaluation. LBC implementation has been proven to increase student
motivation, strengthen the internalization of noble moral values, and strengthen
the relationship between teachers and students. Obstacles found include limited
resources and insufficient teacher training. This study recommends the
development of sustainable LBC-based teacher training programs.
Keywords:
Love-Based Curriculum, Aqeedah Akhlaq, MTs Babussalam, Humanistic Learning,
Islamic Character
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)
pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten
Karimun, Kepulauan Riau. Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan
pedagogis yang menempatkan kasih sayang, empati, dan hubungan emosional yang
positif sebagai fondasi proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru mata pelajaran Akidah
Akhlak dan 32 siswa kelas VII MTs Babussalam tahun ajaran 2025/2026. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa implementasi KBC pada mata pelajaran Akidah Akhlak
dilaksanakan melalui tiga tahap utama, yaitu perencanaan pembelajaran berbasis
cinta, pelaksanaan pembelajaran yang penuh kasih sayang, dan evaluasi yang
humanis. Implementasi KBC terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa,
memperkuat internalisasi nilai-nilai akhlak mulia, serta mempererat hubungan
antara guru dan siswa. Kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan sumber daya
dan kurangnya pelatihan guru. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan
program pelatihan guru berbasis
KBC
secara berkelanjutan.
Kata Kunci:
Kurikulum Berbasis Cinta, Akidah Akhlak, MTs Babussalam, Pembelajaran Humanis,
Karakter Islami
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan Islam pada hakikatnya bertujuan
membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam konteks
madrasah, mata pelajaran Akidah Akhlak memegang peranan strategis dalam
pembentukan karakter dan kepribadian Islami peserta didik. Namun, realitas di
lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran Akidah Akhlak seringkali bersifat tekstual
dan dogmatis, kurang menyentuh dimensi emosional dan spiritual siswa secara
mendalam.
MTs Babussalam sebagai salah satu lembaga
pendidikan Islam di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terus berupaya
meningkatkan kualitas pembelajaran Akidah Akhlak. Berdasarkan observasi awal
yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa sebagian siswa kelas VII kurang
antusias dalam mengikuti pembelajaran Akidah Akhlak. Hal ini terlihat dari
rendahnya partisipasi aktif siswa dalam diskusi kelas, minimnya inisiatif siswa
dalam bertanya, serta hasil belajar yang belum optimal.
Fenomena ini mendorong perlunya inovasi dalam
pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan,
tetapi juga menyentuh hati dan perasaan siswa. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) atau
Love-Based Curriculum hadir sebagai solusi alternatif yang menempatkan kasih
sayang, empati, dan hubungan emosional yang positif sebagai pondasi utama
proses pembelajaran. Konsep ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang
menekankan ar-rahmah (kasih sayang) sebagai salah satu sifat utama yang harus
diteladani umat Muslim.
Kurikulum Berbasis Cinta berakar pada pemikiran
Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan dan Nel Noddings tentang
ethics of care dalam pendidikan. Dalam perspektif Islam, pendekatan ini sangat
relevan dengan konsep rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta)
yang menjadi misi utama agama Islam. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai
pendidik yang penuh kasih sayang, yang mampu mengubah perilaku
sahabat-sahabatnya bukan melalui paksaan, melainkan melalui keteladanan dan
kasih sayang yang tulus.
Di MTs Babussalam Kabupaten Karimun, upaya
implementasi pendekatan kurikulum berbasis cinta dimulai semester genap tahun
pelajaran 2025/2026 pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII. Dengan jumlah
siswa sebanyak 32 orang, kelas ini menjadi laboratorium bagi guru untuk
menerapkan strategi pembelajaran yang lebih humanis, hangat, dan bermakna.
Penelitian ini hadir untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengevaluasi
proses implementasi tersebut sehingga dapat memberikan kontribusi akademis bagi
pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat
diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1.
Rendahnya motivasi dan partisipasi aktif siswa
kelas VII dalam pembelajaran Akidah Akhlak di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.
2.
Pendekatan pembelajaran Akidah Akhlak yang
cenderung tekstual dan kurang menyentuh dimensi emosional siswa.
3.
Belum optimalnya internalisasi nilai-nilai
akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari siswa.
4.
Kurangnya pemahaman guru tentang konsep dan
implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam konteks pendidikan Islam.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian
ini merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1.
Bagaimana perencanaan implementasi Kurikulum
Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam
Kabupaten Karimun?
2.
Bagaimana pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta
pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten
Karimun?
3.
Apa saja kendala dan solusi dalam implementasi
Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs
Babussalam Kabupaten Karimun?
D.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Mendeskripsikan perencanaan implementasi
Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs
Babussalam Kabupaten Karimun.
2.
Menganalisis pelaksanaan Kurikulum Berbasis
Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten
Karimun.
3.
Mengidentifikasi kendala dan merumuskan solusi
dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak
kelas VII di MTs Babussalam Kabupaten Karimun.
E.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi ilmiah dalam pengembangan teori pendidikan Islam, khususnya dalam
pengembangan kurikulum berbasis nilai-nilai kasih sayang dan humanisme Islami.
Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya
yang ingin mengkaji lebih dalam tentang implementasi Kurikulum Berbasis Cinta
dalam konteks pendidikan madrasah.
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi Guru: Memberikan panduan praktis dalam
merancang dan melaksanakan pembelajaran Akidah Akhlak yang berbasis cinta dan
kasih sayang.
b.
Bagi Siswa: Menciptakan pengalaman belajar yang
lebih bermakna, menyenangkan, dan mampu menginternalisasi nilai-nilai akhlak
mulia secara mendalam.
c.
Bagi Madrasah: Menjadi bahan pertimbangan dalam
pengembangan kurikulum dan kebijakan pembelajaran di MTs Babussalam Kabupaten
Karimun.
d.
Bagi Kementerian Agama: Menjadi masukan dalam
pengembangan kurikulum Akidah Akhlak yang lebih humanis dan berbasis
nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Kurikulum Berbasis Cinta
1. Pengertian Kurikulum Berbasis Cinta
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) atau Love-Based
Curriculum merupakan sebuah pendekatan pendidikan yang menjadikan kasih sayang,
empati, dan hubungan emosional yang positif sebagai pondasi utama dalam seluruh
proses pembelajaran. Konsep ini dikembangkan atas dasar keyakinan bahwa
lingkungan belajar yang penuh kasih sayang akan menghasilkan proses
pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi peserta didik.
Nel Noddings (2005) dalam bukunya 'The
Challenge to Care in Schools' menegaskan bahwa hubungan peduli (caring
relationship) antara guru dan siswa merupakan prasyarat utama bagi terjadinya
pembelajaran yang efektif. Ketika siswa merasa dicintai dan dihargai oleh
gurunya, mereka akan lebih terbuka untuk menerima nilai-nilai dan pengetahuan
yang diajarkan. Senada dengan itu, Freire (1970) dalam 'Pedagogy of the
Oppressed' menekankan pentingnya dialog yang penuh cinta sebagai landasan
praksis pendidikan yang membebaskan.
Dalam konteks pendidikan Islam, konsep cinta
(mahabbah) memiliki kedudukan yang sangat sentral. Al-Ghazali dalam Ihya
Ulumuddin menyatakan bahwa mahabbah merupakan derajat tertinggi dalam tangga
spiritual dan menjadi energi penggerak bagi seluruh aktivitas kebaikan.
Rasulullah SAW sebagai pendidik agung telah mencontohkan bagaimana kasih sayang
yang tulus mampu mentransformasi karakter dan perilaku seseorang secara
fundamental.
2. Prinsip-Prinsip Kurikulum Berbasis Cinta
Menurut Zuchdi (2011) dan Lickona (1991),
terdapat beberapa prinsip utama yang mendasari Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu:
a.
Prinsip Ketulusan (Sincerity): Guru harus
menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap setiap siswa tanpa diskriminasi.
Ketulusan ini akan dirasakan siswa dan menciptakan kepercayaan yang kuat.
b.
Prinsip Penerimaan Tanpa Syarat (Unconditional
Acceptance): Setiap siswa diterima apa adanya dengan segala kelebihan dan
kekurangannya. Guru tidak memberikan cinta yang bersyarat pada prestasi atau
perilaku tertentu.
c.
Prinsip Empati (Empathy): Guru berusaha
memahami perasaan, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi siswa dari sudut
pandang siswa itu sendiri.
d.
Prinsip Keteladanan (Modeling): Guru menjadi
teladan nyata dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan, khususnya
nilai-nilai kasih sayang dan akhlak mulia.
e.
Prinsip Dialog (Dialogue): Pembelajaran
berlangsung melalui dialog yang setara, bukan monolog otoritatif guru kepada
siswa.
3. Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam
Pendidikan Islam
Implementasi KBC dalam pendidikan Islam
memiliki landasan teologis yang sangat kuat. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya
dalam Al-Qur'an pertama kali dengan dua sifat yang berkaitan dengan kasih
sayang, yaitu Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Ini
menunjukkan bahwa kasih sayang merupakan esensi dari sifat-sifat ilahi yang
harus diteladani oleh setiap pendidik Muslim.
Dalam praktiknya, implementasi KBC pada
pendidikan Islam mencakup: (1) menciptakan lingkungan belajar yang hangat dan
aman, (2) mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang dalam setiap materi
pelajaran, (3) menggunakan pendekatan pendidikan yang berpusat pada siswa
(student-centered), (4) memberikan umpan balik yang konstruktif dan penuh
penghargaan, dan (5) membangun komunitas belajar yang saling mendukung dan
menghargai.
B. Mata
Pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah
1. Pengertian dan Ruang Lingkup
Akidah Akhlak adalah salah satu mata pelajaran
pendidikan agama Islam yang diajarkan di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Secara
etimologis, akidah berasal dari kata 'aqada-ya'qidu-'aqdan' yang berarti ikatan
atau simpul, yang secara terminologis berarti keyakinan atau kepercayaan yang
kuat terhadap kebenaran ajaran Islam. Sementara akhlak berasal dari kata
'khuluq' (plural: 'akhlaq') yang berarti tabiat, watak, atau karakter yang
telah menjadi kebiasaan.
Menurut Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 912
Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah, mata pelajaran Akidah Akhlak di MTs
bertujuan untuk: (1) menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik, (2)
membentuk kepribadian muslim yang berakhlak mulia, dan (3) mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai
aqidah dan akhlak Islam.
2. Materi Akidah Akhlak Kelas VII
Materi pokok Akidah Akhlak kelas VII MTs
mencakup beberapa tema utama, antara lain: (1) Aqidah Islam dan dalil-dalilnya,
(2) Asmaul Husna dan implikasinya dalam kehidupan, (3) Iman kepada Allah,
malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan qadha-qadar, (4) Akhlak terpuji
dalam kehidupan sehari-hari seperti ikhlas, taat, khauf, raja', tawakkal,
ikhtiar, dan syukur, serta (5) Menghindari akhlak tercela seperti syirik,
kufur, nifak, dan fasik.
3. Tantangan Pembelajaran Akidah Akhlak di Era
Modern
Pembelajaran Akidah Akhlak di era digital
menghadapi berbagai tantangan, antara lain: pengaruh media sosial yang kuat
terhadap pembentukan karakter remaja, degradasi moral yang semakin
memprihatinkan, serta kecenderungan siswa yang lebih tertarik pada hal-hal yang
bersifat hiburan daripada kajian keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi
dalam pendekatan pembelajaran yang mampu menjawab tantangan tersebut.
C.
Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian terdahulu yang relevan
dengan penelitian ini antara lain:
1.
Wahyudi (2019) dalam penelitiannya yang
berjudul 'Penerapan Pendekatan Humanistik dalam Pembelajaran PAI di SMP Negeri
2 Yogyakarta' menemukan bahwa pendekatan humanistik yang berbasis kasih sayang
mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa secara signifikan.
Penelitian tersebut mendukung asumsi dasar KBC bahwa hubungan emosional yang
positif antara guru dan siswa berkontribusi pada keberhasilan pembelajaran.
2.
Nurhayati (2020) meneliti 'Implementasi
Pendidikan Karakter Berbasis Cinta Kasih di Madrasah Ibtidaiyah' dan menemukan
bahwa lingkungan belajar yang penuh kasih sayang terbukti efektif dalam
membentuk karakter siswa yang lebih empati, jujur, dan bertanggung jawab.
Temuan ini relevan dengan tujuan pembelajaran Akidah Akhlak yang ingin membentuk
karakter Islami siswa.
3.
Mahmudah (2021) dalam penelitiannya tentang
'Strategi Guru dalam Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendekatan Afektif di MTs
Se-Kota Semarang' menyimpulkan bahwa pendekatan yang mengutamakan dimensi
afektif dan emosional lebih efektif dalam pembentukan akhlak siswa dibandingkan
pendekatan yang hanya berfokus pada dimensi kognitif.
D.
Kerangka Konseptual
Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual
yang menghubungkan tiga elemen utama: (1) Kurikulum Berbasis Cinta sebagai
pendekatan pedagogis, (2) Mata pelajaran Akidah Akhlak sebagai konteks
penerapan, dan (3) Proses pembelajaran di MTs Babussalam sebagai arena
implementasi. Ketiga elemen ini berinteraksi dalam satu sistem yang saling
mempengaruhi untuk menghasilkan pembelajaran Akidah Akhlak yang bermakna dan
berdampak pada pembentukan karakter siswa.
Kerangka konseptual ini juga mempertimbangkan
faktor-faktor kontekstual seperti latar belakang budaya Melayu siswa di
Kepulauan Riau, kondisi sosial ekonomi keluarga, serta pengaruh lingkungan
digital. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan penting dalam merancang dan
mengimplementasikan KBC yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata
siswa.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih
karena penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena implementasi Kurikulum
Berbasis Cinta secara mendalam dan holistik, sebagaimana adanya di lapangan.
Creswell (2014) menegaskan bahwa penelitian kualitatif sangat tepat digunakan
ketika peneliti ingin mengeksplorasi makna, proses, dan konteks dari suatu
fenomena sosial secara natural.
Jenis penelitian deskriptif digunakan karena
peneliti berupaya untuk menggambarkan, mencatat, menganalisis, dan
menginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi selama proses implementasi KBC
di MTs Babussalam. Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis,
melainkan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang fenomena yang
diteliti.
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Babussalam
yang beralamat di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Madrasah ini
dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan: (1) MTs Babussalam
merupakan salah satu madrasah yang telah mulai mengimplementasikan pendekatan
berbasis cinta dalam pembelajaran, (2) Madrasah ini memiliki karakteristik yang
representatif untuk penelitian tentang pendidikan Islam di daerah kepulauan,
dan (3) Adanya keterbukaan dari pihak madrasah untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini.
Penelitian dilaksanakan selama satu bulan,
yaitu pada tanggal 20 Maret sampai 20 April 2026, meliputi tahap persiapan,
pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
C.
Subjek Penelitian
Subjek
dalam penelitian ini terdiri dari:
1.
Guru mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII MTs
Babussalam, sebagai subjek utama yang bertanggung jawab dalam
mengimplementasikan KBC.
2.
Seluruh siswa kelas VII MTs Babussalam yang
berjumlah 32 orang, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan,
sebagai subjek yang mengalami proses pembelajaran KBC.
3.
Kepala Madrasah MTs Babussalam, sebagai
informan kunci yang memberikan informasi tentang kebijakan dan dukungan
institusional terhadap implementasi KBC.
4.
Orang tua siswa, sebagai informan pendukung
yang memberikan perspektif tentang dampak implementasi KBC terhadap perilaku
siswa di rumah.
D.
Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi dilakukan secara langsung di kelas
VII selama proses pembelajaran Akidah Akhlak berlangsung. Peneliti menggunakan
panduan observasi yang terstruktur untuk merekam berbagai aspek implementasi
KBC, termasuk interaksi guru-siswa, suasana kelas, strategi pembelajaran yang
digunakan, dan respons siswa terhadap pendekatan yang diterapkan. Observasi
dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan selama periode penelitian.
2. Wawancara
Wawancara mendalam (in-depth interview)
dilakukan dengan guru, kepala madrasah, dan perwakilan siswa. Wawancara dengan
guru dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pemahaman, perencanaan, dan
pengalaman implementasi KBC. Wawancara dengan kepala madrasah berfokus pada
kebijakan dan dukungan kelembagaan. Sementara wawancara dengan siswa bertujuan
untuk mengetahui persepsi dan pengalaman mereka dalam pembelajaran berbasis
cinta. Wawancara dengan orang tua dilakukan untuk mengetahui dampak
implementasi KBC terhadap perilaku siswa di luar sekolah.
3. Dokumentasi
Studi dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan
data-data tertulis yang berkaitan dengan implementasi KBC, meliputi: Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul pembelajaran, hasil evaluasi siswa,
catatan anekdotal guru, dokumen kebijakan madrasah, dan foto-foto kegiatan
pembelajaran.
E.
Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan
model Miles dan Huberman (1994) yang terdiri dari tiga tahap:
1.
Reduksi Data (Data Reduction): Proses
pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi
data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Data yang direduksi adalah data
yang tidak relevan dengan fokus penelitian.
2.
Penyajian Data (Data Display): Data yang telah
direduksi kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif, tabel, diagram, dan
matriks untuk memudahkan pemahaman dan penarikan kesimpulan.
3.
Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing):
Berdasarkan data yang telah disajikan, peneliti menarik kesimpulan yang
didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten.
F.
Keabsahan Data
Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini
menggunakan beberapa teknik triangulasi, yaitu: (1) Triangulasi sumber, dengan
membandingkan data dari berbagai sumber yang berbeda (guru, siswa, kepala
madrasah, dan orang tua); (2) Triangulasi teknik, dengan membandingkan data
dari observasi, wawancara, dan dokumentasi; dan (3) Member check, dengan
mengonfirmasi temuan penelitian kepada subjek penelitian untuk memastikan
akurasi dan kesesuaian interpretasi peneliti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Profil MTs Babussalam Kabupaten Karimun
MTs Babussalam merupakan Madrasah Tsanawiyah
yang berdiri di bawah naungan Yayasan Annisa di Kabupaten Karimun, Provinsi
Kepulauan Riau. Madrasah ini didirikan dengan tujuan untuk memberikan layanan
pendidikan Islam yang berkualitas bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang
secara geografis memiliki keterbatasan akses terhadap lembaga pendidikan
formal.
Pada tahun ajaran 2025/2026, MTs Babussalam
memiliki jumlah siswa kelas VII sebanyak 32 orang, yang terdiri dari 17 siswa
laki-laki dan 15 siswa perempuan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang
keluarga dengan mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan pedagang. Kondisi
sosial ekonomi yang beragam ini menjadi salah satu faktor penting yang
dipertimbangkan dalam implementasi KBC.
Tabel
4.1 Profil Siswa Kelas VII MTs Babussalam Tahun Ajaran 2025/2026
|
No. |
Keterangan |
Jumlah |
Persentase |
|
1 |
Siswa Laki-laki |
17 orang |
53,13% |
|
2 |
Siswa Perempuan |
15 orang |
46,87% |
|
|
Total |
32 orang |
100% |
B.
Perencanaan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta
1. Pemahaman Guru tentang Kurikulum Berbasis
Cinta
Hasil wawancara dengan guru Akidah Akhlak kelas
VII menunjukkan bahwa guru telah memiliki pemahaman dasar tentang konsep KBC.
Guru menyatakan bahwa implementasi KBC dimulai dari keyakinan bahwa setiap anak
adalah amanah yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan tanggung
jawab. Pandangan ini selaras dengan perspektif Islam bahwa mendidik adalah
ibadah yang harus dilakukan dengan ketulusan hati.
Guru juga mengungkapkan bahwa pemahaman tentang
KBC tidak didapat melalui pelatihan formal, melainkan melalui bacaan mandiri,
diskusi dengan rekan sejawat, dan refleksi atas pengalaman mengajar selama
bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan perlunya program pelatihan yang sistematis
tentang KBC bagi para pendidik madrasah.
2. Penyusunan Perangkat Pembelajaran
Dalam tahap perencanaan, guru menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan prinsip-prinsip KBC ke
dalam setiap komponen pembelajaran. Beberapa modifikasi yang dilakukan antara
lain: (1) menambahkan kegiatan pembuka berupa salam dengan jabat tangan dan
sapaan personal kepada setiap siswa, (2) menyisipkan refleksi emosional di
tengah pembelajaran, (3) merancang aktivitas pembelajaran yang bersifat
kooperatif dan saling mendukung, dan (4) menyediakan ruang bagi siswa untuk
mengekspresikan perasaan dan pengalaman mereka berkaitan dengan materi.
C.
Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak
1. Kegiatan Pendahuluan
Implementasi KBC dimulai sejak siswa memasuki
ruang kelas. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti selama 4 kali
pertemuan, guru selalu menyambut siswa di pintu kelas dengan senyum dan salam.
Guru memanggil setiap siswa dengan nama panggilan yang disukai, bukan sekadar
nama resmi. Praktik sederhana ini ternyata memiliki dampak yang signifikan
terhadap kesiapan emosional siswa dalam belajar.
Setiap pembelajaran dimulai dengan do'a bersama
yang dipimpin secara bergantian oleh siswa. Setelah itu, guru melakukan
'check-in emosional' dengan menanyakan kabar dan perasaan siswa secara singkat.
Praktik ini menciptakan suasana keterbukaan dan kepercayaan di antara guru dan
siswa.
2. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, guru menggunakan berbagai
strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Beberapa
strategi yang ditemukan dalam observasi antara lain:
a.
Pembelajaran Kooperatif Berbasis Cinta: Siswa
dibagi dalam kelompok kecil yang heterogen. Setiap kelompok diminta untuk
saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam memahami materi Akidah
Akhlak. Guru memantau dinamika kelompok dan secara aktif memberikan pujian atas
kerja sama yang baik.
b.
Storytelling Inspiratif: Guru menggunakan
kisah-kisah Nabi dan sahabat yang sarat dengan nilai kasih sayang sebagai
jembatan untuk memperkenalkan konsep-konsep Akidah Akhlak. Metode ini terbukti
efektif dalam menarik perhatian dan minat siswa, khususnya pada materi tentang
akhlak mulia.
c.
Refleksi Nilai: Di setiap akhir sesi materi,
guru mengajak siswa untuk merefleksikan kaitan antara materi yang dipelajari
dengan kehidupan sehari-hari mereka. Siswa didorong untuk berbagi pengalaman
pribadi tanpa takut dihakimi.
d.
Apresiasi dan Penghargaan: Guru secara
konsisten memberikan apresiasi atas setiap kontribusi siswa, baik yang besar
maupun yang kecil. Tidak ada siswa yang dibiarkan merasa tidak dihargai.
Kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan
untuk memberikan sanksi.
3. Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup dirancang untuk memperkuat
koneksi emosional dan memastikan setiap siswa merasa positif saat meninggalkan
kelas. Guru menggunakan teknik 'exit ticket' di mana setiap siswa menuliskan
satu hal yang mereka pelajari dan satu hal yang mereka syukuri hari itu.
Pembelajaran ditutup dengan do'a bersama dan ucapan terima kasih guru kepada
seluruh siswa atas partisipasi mereka.
D.
Dampak Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta
1. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara,
implementasi KBC terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa secara
signifikan. Pada awal penelitian, ditemukan bahwa hanya sekitar 40% siswa yang
menunjukkan antusiasme tinggi dalam pembelajaran. Setelah satu bulan
implementasi KBC, persentase siswa yang antusias meningkat menjadi sekitar 75%.
Siswa menjadi lebih bersemangat untuk datang ke sekolah dan aktif
berpartisipasi dalam diskusi kelas.
Tabel
4.2 Perbandingan Motivasi Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah Implementasi KBC
|
Indikator Motivasi |
Sebelum KBC |
Sesudah KBC |
|
Kehadiran Tepat Waktu |
78,1% (25 siswa) |
93,75% (30 siswa) |
|
Partisipasi Aktif di Kelas |
40,6% (13 siswa) |
75% (24 siswa) |
|
Penyelesaian Tugas Tepat Waktu |
65,6% (21 siswa) |
87,5% (28 siswa) |
|
Inisiatif Bertanya |
25% (8 siswa) |
62,5% (20 siswa) |
2. Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Mulia
Salah satu dampak yang paling signifikan dari
implementasi KBC adalah peningkatan internalisasi nilai-nilai akhlak mulia
dalam perilaku siswa sehari-hari. Berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa,
sebagian besar melaporkan adanya perubahan positif pada perilaku anak mereka di
rumah, seperti lebih sering membantu orang tua, menunjukkan empati yang lebih
besar terhadap saudara, dan lebih rajin beribadah.
Guru juga mencatat adanya perubahan positif
dalam dinamika sosial kelas. Tingkat konflik antar siswa menurun, sementara
sikap saling membantu dan empati meningkat. Siswa mulai spontan menunjukkan perilaku
seperti membantu teman yang kesulitan, berbagi makanan, dan mengingatkan teman
untuk shalat.
3. Penguatan Hubungan Guru-Siswa
Implementasi KBC juga berdampak positif pada
kualitas hubungan antara guru dan siswa. Siswa merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan
kesulitan dan permasalahan mereka kepada guru. Guru pun menjadi lebih memahami
kondisi dan kebutuhan individual setiap siswa, sehingga dapat memberikan
dukungan yang lebih tepat sasaran.
E.
Kendala dan Solusi
1. Kendala yang Dihadapi
Meskipun implementasi KBC menunjukkan hasil
yang positif, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala yang dihadapi,
antara lain:
a.
Keterbatasan Waktu: Durasi pembelajaran yang
terbatas (2 JP x 40 menit per pertemuan) seringkali tidak mencukupi untuk
melaksanakan seluruh rangkaian aktivitas KBC secara optimal, terutama kegiatan
refleksi dan dialog mendalam.
b.
Kurangnya Sumber Daya: Keterbatasan buku
referensi dan media pembelajaran yang mendukung pendekatan KBC menjadi hambatan
dalam pelaksanaan yang lebih kreatif dan variatif.
c.
Variasi Kesiapan Siswa: Tidak semua siswa
memiliki kesiapan emosional yang sama untuk terlibat dalam pembelajaran
berbasis cinta. Beberapa siswa yang berasal dari keluarga dengan pola asuh
otoriter cenderung sulit untuk terbuka dan ekspresif.
d.
Beban Administrasi Guru: Tuntutan administrasi
yang tinggi (penyusunan laporan, pengisian sistem informasi, dll.) mengurangi
waktu dan energi guru untuk merencanakan pembelajaran KBC yang lebih
berkualitas.
2. Solusi yang Diterapkan
Untuk mengatasi kendala tersebut, beberapa
solusi yang diterapkan antara lain:
a.
Efisiensi Waktu: Guru melakukan penyesuaian
alokasi waktu untuk setiap aktivitas KBC, memprioritaskan kegiatan yang
memberikan dampak emosional paling signifikan.
b.
Pemanfaatan Sumber Daya Digital: Guru memanfaatkan
konten digital gratis (video, audio, dll.) yang tersedia di internet sebagai
media pembelajaran yang mendukung KBC.
c.
Pendekatan Individual: Guru memberikan
perhatian khusus kepada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk membuka
diri, dengan pendekatan yang lebih personal dan sabar.
d.
Kolaborasi dengan Orang Tua: Guru secara aktif
melibatkan orang tua dalam mendukung implementasi nilai-nilai KBC di rumah,
sehingga ada kesinambungan antara pembelajaran di madrasah dan di keluarga.
e.
BAB V
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
yang telah diuraikan, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:
Pertama, perencanaan implementasi Kurikulum
Berbasis Cinta pada mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII MTs Babussalam
Kabupaten Karimun dilakukan melalui modifikasi RPP yang mengintegrasikan
prinsip-prinsip kasih sayang, empati, dan penerimaan tanpa syarat ke dalam
setiap komponen pembelajaran. Perencanaan ini mencerminkan pemahaman guru yang
kuat tentang nilai-nilai Islam sebagai landasan pedagogis KBC.
Kedua, pelaksanaan KBC pada mata pelajaran
Akidah Akhlak kelas VII dilaksanakan secara konsisten melalui tiga tahapan:
kegiatan pendahuluan yang hangat dan penuh kasih sayang, kegiatan inti yang
berpusat pada siswa dengan berbagai strategi berbasis KBC (pembelajaran
kooperatif, storytelling, refleksi nilai, dan apresiasi), serta kegiatan
penutup yang memperkuat koneksi emosional positif.
Ketiga, implementasi KBC terbukti memberikan
dampak positif yang signifikan terhadap: (a) motivasi belajar siswa yang
meningkat secara signifikan, (b) internalisasi nilai-nilai akhlak mulia yang
lebih mendalam dalam perilaku sehari-hari siswa, dan (c) penguatan hubungan
guru-siswa yang lebih bermakna dan saling percaya.
Keempat, kendala utama dalam implementasi KBC
meliputi keterbatasan waktu, kurangnya sumber daya, variasi kesiapan emosional
siswa, dan beban administrasi guru. Kendala-kendala ini dapat diatasi melalui
efisiensi waktu, pemanfaatan sumber daya digital, pendekatan individual, dan kolaborasi
dengan orang tua.
B. Saran
1. Bagi Guru
Guru disarankan untuk terus mengembangkan
kompetensi dalam implementasi KBC melalui membaca literatur terkini, mengikuti
pelatihan, dan melakukan refleksi diri secara berkala. Guru juga dianjurkan
untuk mendokumentasikan praktik-praktik terbaik KBC yang telah berhasil
diterapkan sebagai bahan pembelajaran bagi rekan sejawat.
2. Bagi Kepala Madrasah
Kepala madrasah diharapkan dapat memfasilitasi
pengembangan kapasitas guru dalam KBC melalui program pelatihan yang sistematis
dan berkelanjutan. Selain itu, diperlukan kebijakan yang mendukung pengurangan
beban administrasi guru agar mereka dapat lebih fokus pada kualitas
pembelajaran.
3. Bagi Kementerian Agama
Kementerian Agama disarankan untuk
mengintegrasikan konsep KBC dalam kurikulum pelatihan guru madrasah secara
nasional. Pengembangan buku panduan implementasi KBC yang kontekstual dan
praktis juga sangat diperlukan untuk membantu guru di seluruh Indonesia.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan,
khususnya dalam hal durasi penelitian dan jumlah subjek yang terbatas. Peneliti
selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian longitudinal dengan cakupan
yang lebih luas untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang implementasi
KBC dalam pendidikan Islam di Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Ghazali, A. H. M. (2010). Ihya Ulumuddin (Menghidupkan
Ilmu-Ilmu Agama), Jilid 3. Terjemahan oleh Moh. Zuhri. Semarang: Asy-Syifa.
Bogdan, R. C., & Biklen, S. K. (2007). Qualitative
Research for Education: An Introduction to Theories and Methods (5th ed.).
Boston: Allyn and Bacon.
Creswell, J. W. (2014). Research Design:
Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand
Oaks, CA: SAGE Publications.
Departemen Agama RI. (2006). Peraturan Menteri
Agama Nomor 2 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Jakarta: Departemen Agama
RI.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed.
New York: Herder and Herder.
Hamidi. (2010). Metode Penelitian
Kualitatif: Pendekatan Praktis Penulisan Proposal dan Laporan Penelitian.
Malang: UMM Press.
Kementerian Agama RI. (2013). Peraturan Menteri
Agama Nomor 912 Tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Jakarta: Kemenag RI.
Lickona, T. (1991). Educating for Character:
How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam
Books.
Mahmudah, S. (2021). Strategi Guru dalam
Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendekatan Afektif di MTs Se-Kota Semarang.
Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 145-162.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative
Data Analysis: An Expanded Sourcebook (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE
Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian
Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhaimin. (2012). Pengembangan Kurikulum
Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Musthafa, A. (2015). Akhlak Tasawuf.
Bandung: CV Pustaka Setia.
Noddings, N. (2005). The Challenge to Care
in Schools: An Alternative Approach to Education (2nd ed.). New York:
Teachers College Press.
Noddings, N. (2012). The Language of Care
Ethics. Knowledge, Power and Practice: The Anthropology of Medicine and
Everyday Life, 5, 111-120.
Nurhayati, E. (2020). Implementasi
Pendidikan Karakter Berbasis Cinta Kasih di Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal
Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 5(1), 28-45.
https://doi.org/10.25299/althariqah.2020.vol5(1).4703
Ramayulis. (2010). Ilmu Pendidikan Islam.
Jakarta: Kalam Mulia.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tafsir, A. (2011). Ilmu Pendidikan Islam.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wahyudi, T. (2019). Penerapan Pendekatan
Humanistik dalam Pembelajaran PAI di SMP Negeri 2 Yogyakarta. Jurnal
Pendidikan Islam Indonesia, 4(1), 63-78. https://doi.org/10.35316/jpii.v4i1.176
Zuchdi, D. (2011). Pendidikan Karakter dalam
Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press.
Zuhairini, dkk. (2009). Filsafat Pendidikan
Islam. Jakarta: Bumi Aksara.